Semarang Banjir Anjal dan Gepeng

Pemkot sendiri sebenarnya sudah menyediakan lahan seluas 4,8 hektare eks tanah bengkok  untuk pembangunan panti sosial terpadu. Pemkot juga telah melakukan pemadatan tanah di lahan tersebut, mengingat kondisi lahan lebih rendah dari jalan utama.

”Saat ini kami masih menunggu keputusan dari pusat, karena alokasi anggaran yang direncanakan kementerian belum gol. Alokasi anggaran dialihkan ke tempat lain dulu. Kita masih intensif melakukan komunikasi dengan pusat,” terangnya.

Rencananya, lanjut Sri,  tempat rehabilitasi sosial terpadu tersebut memiliki kapasitas yang cukup besar. Bisa menampung ratusan anjal dan PGOT. Tidak hanya untuk tempat rehabilitasi, tapi di atas lahan seluas 4 hektare tersebut akan dibangun kantor dinas dan gedung pelatihan. Selain menunggu realisasi pembangunan panti sosial Rowosari, pihaknya juga masih menunggu lahan pengganti panti rehabilitasi Among Jiwo, mengingat lahan yang saat ini terkena proyek pembangunan tol Semarang-Batang.

”Bangunan Among Jiwo lama terkena proyek tol, jadi tidak bisa dikembangkan, karena terkena semua. Kami masih menunggu lahan dan bangunan penggantinya,” ujarnya.

Diharapkan lahan pengganti tidak jauh dari lokasi lama. Saat ini masih ada dua lokasi alternatif, yakni di lahan dekat bangunan lama dan belakang kantor Kecamatan Ngaliyan. ”Saat ini masih proses pembahasan. Nanti di sana khusus penampungan sementara bagi yang memiliki gangguan mental,” tandasnya.

Data terakhir dari Dinsospora Kota Semarang pada 2012, jumlah anjal mencapai 4.021 jiwa, rinciannya 275 laki-laki dan 126 perempuan. Minimnya anggaran yang dialokasikan untuk operasional, meliputi penjaringan/ penertiban, dan pendataan, juga menjadi alasan tak optimalnya pendataan. Hanya Rp 60 juta per tahun.  Sedangkan alokasi anggaran penanganan seperti untuk pelatihan dan rehabilitasi  sekitar Rp 1,5 miliar per tahun. (zal/aro/ce1)

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar