Muscab PKB Pakai Sistem Musyawarah Mufakat

DEMAK- DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Demak, kemarin malam, menggelar tasyakuran dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-18. Acara yang berlangsung di Kantor DPC PKB Jalan Sultan Hadiwijaya tersebut ditandai dengan potong tumpeng serta diselingi dengan pemberian santunan bagi anak yatim piatu.

Selain itu, dilakukan pembacaan tahlil dan doa bersama. Sekretaris DPC PKB Demak, H Nurul Muttaqin mengungkapkan, usia PKB memang masih sangat muda, tampak ranum serta disenangi konstituen. Karena itu, PKB Demak tetap optimis dapat menjadi pemenang pemilu legislatif (pileg) sebagaimana pemilu sebelumnya. “Kegiatan PKB sekarang lebih aktif dan masif dimasyarakat. Setelah menggelar nusantara mengaji dan lomba mengaji kitab kuning, kita juga menggelar berbagai kegiatan lainnya,”kata dia.

Menurut Nurul, saat ini DPC PKB Demak juga menyongsong gelaran musyawarah cabang (Muscab) untuk memilih ketua dan jajaran pengurus baru. “Untuk Muscab PKB ini, Insya Allah digelar Agustus ini,”katanya.

Dia menambahkan, berbeda dengan sistem sebelumnya, dalam Muscab nanti, PKB akan menggunakan sistem pemilihan dengan dasar musyawarah mufakat serta aklamasi. “Ini untuk mencegah terjadinya perpecahan diinternal partai. Jadi, tidak hanya Muscab saja, namun dalam berbagai kegiatan yang dilakukan mendasarkan pada musyawarah mufakat,”katanya.

Ketua Dewan Syuro DPC PKB, KH Nurullah Yasin mengatakan, meski tidak menjadi pengusung bupati, namun PKB tidak akan berkecil hati. Menurutnya, sebagai partai yang berbasis warga Nahdliyyin, kini PKB diusia yang masih muda ini terus berupaya memperjuangkan Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah (Madin). “Sebab, lembaga pendidikan nonj formal itu menjadi ujung dalam pembinaan akhlaqul karimah,” tandasnya.

Harlah ini juga diisi mauidzah hasanah oleh Fungsionaris DPC PKB, KH Masykuri Abdillah. Yang bersangkutan lebih banyak mengupas sejarah PKB yang didirikan para ulama dan kiai Nahdlatul Ulama (NU) tersebut. “PKB didirikan para sesepuh ulama NU pada 18 tahun lalu. Diantaranya, oleh KH Cholil Bisri, KH Ilyas Ruchiyat, KH Abdurrahman Wahid dan kiai sepuh lainnya. Intinya, waktu itu para ulama memandang bahwa NU harus punya partai sendiri agar aspirasi warga NU tersalurkan. Dengan demikian, dengan adanya partai itu bisa menjawab berbagai masalah baik terkait bidang social, ekonomi, maupun dalam mempertahankan NKRI,”ujarnya. (hib/zal)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar