Prihatin Harga Gabah, Ciptakan Varietas Unggul
BERITA TERKAIT

Anjloknya harga gabah di kalangan petani beberapa tahun terakhir khususnya di Kabupaten Demak, memantik Hery Sugiartono untuk mencari solusi. Antara lain dengan menciptakan beras premium khas Demak dengan nama Mlatiharjo. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL

SEKILAS memang tidak ada hal yang luar biasa ketika kali pertama berkunjung ke rumah Hery Sugiartono, petani dari Kelompok Tani Sri Rahayu di Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah, Kabupten Demak. Rumah kayu yang teduh dikelilingi beraneka ragam pepohonan menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi. ”Selamat datang di gubuk kami. Anggap saja seperti rumah sendiri,” katanya seraya mempersilakan duduk di ruang tamu yang telah disediakan.

Hery menceritakan, dirinya bersama dengan sejumlah petani Kelompok Tani Sri Rahayu di Kabupaten Demak saat ini tengah mengembangkan pembuatan varietas padi unggulan untuk meningkatkan kualitas beras yang diproduksi. Padi kualitas unggulan itu dinilai mampu menaikkan nilai tawar karena beras yang diproduksi dibeli dengan harga tinggi. ”Ada beras hitam, beras merah, dan beras Jepang. Karena premium, harga jualnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan beras biasa,” katanya.

Dibeberkan dia, harga beras hitam yang mereka produksi mampu dijual seharga Rp 30 ribu per kilogram, beras merah Rp 20 ribu dan beras Jepang Rp 16 ribu. Menurutnya, beras yang diproduksi petani di kampungnya itu banyak dijual oleh perorangan dengan pemasaran online. ”Meski begitu, tak sedikit juga perusahaan yang ingin memasarkan produk kami dalam skala besar,” imbuhnya seraya mengaku dalam waktu dekat akan membuat sistem aplikasi berbasis Playstore.

Hery mengaku, produksi padi yang dilakukan itu dimulai sejak awal 2000-an tepatnya 2004 atas dampingan peneliti Balai Tanaman Pangan Bogor. Saat itu, petani Desa Mlatiharjo di Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak mendapatkan bantuan bibit padi hibrida dari Tiongkok yang ternyata gagal dikembangkan karena tidak cocok dengan iklim tropis. ”Dari situ, saya mencoba mengawinsilangkan sejumlah bibit tersisa dari Negeri Tiongkok itu dengan varietas lokal yang hasilnya memunculkan kualitas lebih baik yang kami namai beras Mlatiharjo,” terang sarjana pertanian dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) itu.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar