Identitas Masyarakat Semarang

Oleh: Djawahir Muhammad

KAWASAN di sekitar masjid besar Semarang yang dibangun Bupati Semarang Surohadimenggolo pada 1743, kemudian tumbuh menjadi perkampungan penduduk, pondok pesantren, dan permukiman kaum  santri (Kauman, tempat ”kaum” bermukim). Di sana mereka mencari nafkah hidup, belajar ilmu-ilmu agama, dan menyelenggarakan ritual-ritual budaya bernapaskan ajaran Islam.

Menurut Wijanarka (2000), dan Suliyati (2011),  Kampung Kauman adalah pusat pertumbuhan dan perkembangan kampung dalam Kota Semarang, melalui bentuk-bentuk rumah, lingkungan sosial maupun ciri-ciri kehidupan masyarakatnya. Salah satu bentuk tradisi lokal tersebut adalah penyelenggaraan upacara ”Dugderan”, yang dimulai pada masa Pemerintahan Bupati Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ario Purboningrat pada 1891. Sementara itu masyarakat di sekitar kawasan Kauman adalah lingkungan masyarakat santri yang bersifat mandiri, mencari nafkah hidupnya dari sektor jasa atau perdagangan.

Dua karaktertistik tersebut –beribadah dan berdagang (religiositas dan entreprenuership) sesungguhnya merupakan fundamen dari karakteristik masyarakat Semarang yang telah dirintis oleh pendiri kota ini Ki Ageng Pandanaran sejak pertengahan abad ke-16. Keduanya telah berproses secara natural (alamiah) menjadi bentuk-bentuk warisan budaya yang bersifat tangible maupun intangible culture (nilai-nilai atau budaya yang tersentuh dan tak tersentuh) masyarakat asli Kota Semarang.

Hal itu dicirikan dengan pola kehidupan berdasar ajaran agama (religiositas), dan bermata pencaharian sebagai pedagang (berjiwa entrepreneur, wiraswasta). Selanjutnya  sebagai proses internalisasi dengan  ajaran agama Islam yang tak membeda-bedakan derajat manusia,  telah  menumbuhkan sikap egaliter (bebas, tak membedakan derajat atau kelas sosial dalam bermasyarakat) dan menumbuhkan sikap terbuka (equality), yakni keterbukaan terhadap nilai-nilai dari beragam etnis dan budaya penghuninya.

Orang Semarang juga memiliki sifat kreatif dan gemar keindahan. Nilai atau karakter tersebut menjadi landasan terbentuknya ciri-ciri atau identitas kultural yang terdiri atas identitas bentuk (identities of kind) dan identitas nilai (identities of mind) orang Semarang. Keempat nilai tersebut seharusnya disadari oleh orang-orang Semarang sebagai bentuk personal and social integrity (keutuhan persona dan sosial) mereka, yang merupakan warisan nilai-nilai dari pendiri kota ini.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar