Jaga Budaya Halalbihalal

MOMEN Lebaran selalu identik dengan acara halalbihalal. Keduanya tidak dapat dipisahkan bagaikan dua sisi mata uang. Ternyata, kegiatan tersebut hanya terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, harus dijaga dan selalu dipraktekkan.

”Ini budaya kita, jangan sampai nanti dipatenkan negara lain. Sebab, beberapa negara sudah mulai mengikutinya,” ungkap Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Semarang, Fachrurrozi saat diminta menjadi penceramah di acara halalbihalal yang digelar di Balai Kota Semarang, Senin (11/7).

Ia mengatakan, halalbihalal menekankan dua hal. Yaitu Hablun Min Allah (hubungan dengan Allah) dan Hablun Min Annas (hubungan dengan manusia). Keduanya harus dijaga dengan baik agar kehidupan manusia menjadi lebih baik. ”Yang kedua (hablun min annas) jauh lebih rumit karena manusia itu beragam,” imbuhnya.

Fachrurrozi menegaskan, momen Lebaran harus menjadi momen introspeksi diri bagi manusia untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menurut dia, pada bulan Ramadan manusia dapat menahan dari hal-hal yang dihalalkan (diperbolehkan). Jika hal tersebut dapat berlanjut, maka akan mampu menghindari hal-hal yang diharamkan (dilarang).

”Dalam pemerintahan, pemimpin itu ibarat imam. Sebagai makmum, masyarakat harus mengikutinya selama sesuai aturan. Sebaliknya, sang imam juga harus mampu mengerti dan memahami keinginan makmumnya,” pungkas dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang itu seraya berharap Kota Semarang benar-benar menjadi kota yang hebat. (fai/ric/ce1)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar