Tak Bosan Himpun Keberkahan dan Kemanfaatan Hidup

Tidak pernah terlintas di pikiran Achmad Zaid, pria kelahiran 1971 ini untuk menduduki kursi kepala Ombudsman Republik Indonesia (RI) Perwakilan Jawa Tengah. Karena cita-citanya menjadi tentara lantaran sang ayah dulunya merupakan pejuang Hisbullah. Namun takdir berkata lain.

ORANG tua Zaid, H Ali Anwar dan Hj Suyaroh, selalu mengajarkan agar dirinya menjadi orang yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Karena itulah, begitu lulus kuliah tahun 2003 dan memperistri Khoiriyah yang juga mantan teman seperkuliahan, ia mendirikan sebuah lembaga advokasi rakyat (BAKAR). Yakni, sebuah lembaga yang berawal dari komitmen para pengacara muda yang gelisah melihat banyak orang tidak mampu menjangkau biaya beracara. Lembaga ini merupakan lembaga hukum yang membantu orang tidak mampu dalam berperkara alias gratis.

“Saya diajarkan orangtua untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan niat ibadah membantu masyarakat kecil dan lemah yang membutuhkan, kami mendirikan BAKAR dengan dana subsidi dari kantong sendiri. Namun, karena sekarang saya di ombudsman, saya tidak diperbolehkan beracara,” bebernya.

Kendati begitu, duduk dia menjadi seorang kepala ombudsman RI merupakan hasil doa dari berbagai kalangan. Terutama orangtua yang selalu berdoa dan selalu berbuat baik. Sehingga anaknyalah yang saat ini menuai hasil dari itu semua. “Saya duduk disini bukan karena Zaid seorang, tapi berkat doa-doa banyak orang. Dan yang paling utama karena kuasa Allah,” tuturnya.

Rasa syukurnya kepada yang Maha Kuasa semakin meluap, ketika dirinya dihadapkan pengalaman pada tahun 2013 yang sulit ia lupakan. Bahkan menjadi semangat baginya untuk tetap konsisten membela hak orang miskin. Ketika itu, ia memperjuangkan hak seorang anak berusia 9 tahun, penderita tumor ginjal yang ditolak pihak rumah sakit karena tidak memiliki surat-surat kelengkapan. Dari usahanya bersama anggota Ombudsman, akhirnya anak tersebut dapat dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang, meskipun akhirnya tidak tertolong. ”Anaknya bernama Dimas. Saya sempat menangis, ketika dikabari sudah meninggal dunia setelah dua hari mendapatkan perawatan,” kenangnya.

Dari pengalaman tersebut, ia mengaku banyak belajar tentang kehidupan terutama persoalan pelayanan publik. ”Saya menjadi tahu dan harus tahu mengenai permasalahan yang menyangkut kepentingan publik. Kebahagiaan saya adalah ketika saya bisa membantu rakyat kecil. Ketika saya bisa membantu dan melihat mereka senang. Kebahagiaan, bukan kebanggaan. Karena jika kebanggaan, lama-lama nanti bisa menjadi sombong. Karena kesombongan adalah milik Allah,” imbuh ayah tiga anak yang memiliki semboyan, Durung tau sugih, ora wedi mlarat (belum pernah kaya, sehingga tidak takut menjadi miskin) ini.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar