Mudik dan Kepedulian
BERITA TERKAIT

Oleh:

Zahrotun Munawaroh *)

MENJELANG Idul Fitri, aroma mudik sudah bisa dirasakan. Kata mudik sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia, mudik menjelang hari raya idul fitri seakan sudah mengakar dan menjadi kewajiban setiap tahun bagi sebagian atau sekelompok orang yang mengadu nasib di perantauan. Suatu tradisi yang mungkin tidak akan pernah hilang, bahkan setiap tahun diperkirakan arus mudik di tanah air semakin melonjak dan semakin ramai.

Idul fitri mampu menggerakkan ratusan bahkan jutaan orang dari berbagai daerah dari kota perantauan menuju kampung halaman masing-masing. Tidak peduli bagaimanapun sulitnya menerjang arus mudik yang begitu padat, menempuh perjalanan panjang dengan segala resiko yang ada, hingga naiknya biaya angkutan umum dua kali lipat dari biasanya dan hal-hal lain yang tak kalah hebatnya. Semua jerih payah yang dihadapi selama dalam perjalanan tidak menurunkan semangat untuk tetap pulang ke kampung halaman. Semua itu dilakukan demi terealisasinya satu kata pulang.

Fenomena mudik begitu kuat dirasakan oleh masyarakat Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sedikitnya ada tiga nilai yang begitu kental melekat dari kata “mudik”, yakni: hari yang fitri sebagai ajang penghapusan segala amal buruk baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama manusia, menjalin silaturrahmi sebagai makhluk sosial, serta saling berbagi kepada sesama.

Mudik dalam moment Idul Fitri sebagai ajang penghapusan segala amal buruk memiliki makna saling memaafkan  kesalahan yang telah diperbuat antar sesama selama satu tahun. Dalam konteks seperti ini seolah kehadiran yang memiliki nilai adalah kehadiran secara fisik. Kata sungkem dalam tradisi Jawa menunjukkan bahwa tidak mungkin tindakan itu dilakukan secara virtual. Oleh karena itu, meskipun sarana komunikasi modern telah menjadi gaya hidup masyarakat namun kehadiran secara fisik tidak tergantikan. Permohonan maaf menjadi utama dalam moment Idul Fitri karena pandangan bahwa setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan, manusia menjadi bersih dari kesalahan masa lampau setelah melakukan pengampunan. Permohonan maaf itu merupakan penyempurna dari ibadah puasa tersebut. Terutama yang terbalut dengan niat menjalankan salah satu bentuk ibadah setelah merayakan kemenangan.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar