Harmonisasi Dalam Toleransi Beragama
BERITA TERKAIT

Oleh:

Baidi Bukhori *)

KEHARMONISAN sangat penting dalam masyarakat yang majemuk, karena merupakan sarana yang harus ada untuk mewujudkan situasi aman dan damai. Keharmonisan tersebut dapat tercipta kalau masyarakat memiliki toleransi yang tinggi. Dalam Islam tidak dikenal adanya paksaan dalam memeluk agama. Allah telah menunjukkan jalan kebenaran, namun tetap memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih sendiri jalan yang dianggap baik.

Menurut Moenasir & Al Munawwar (1992), dalam ajaran Islam terdapat lima prinsip utama toleransi untuk membentuk tatanan sosial masyarakat yang baik (mabadi’ khaira ummat). Lima prinsip utama toleransi dalam Islam tersebut adalah: Pertama, as-sidqu (kejujuran atau kebenaran). Kejujuran atau kebenaran adalah adanya kesamaan antara perkataan dan perbuatan, tidak plin-plan, dan tidak dengan sengaja memutarbalikkan fakta atau memberikan informasi yang menyesatkan. Kejujuran diterapkan dalam beberapa hal, yaitu jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain. Jujur kepada orang lain meliputi jujur dalam bertransaksi dan jujur dalam bertukar pikiran. Jujur dalam bertransaksi artinya menjauhi segala bentuk penipuan demi mengejar keuntungan pribadi dan kelompok, sedangkan jujur dalam bertukar pikiran artinya mencari maslahat (kebaikan) serta bersedia mengakui dan menerima pendapat yang lebih baik.

Kedua, al-amanah wa al-wafa’ bi al-ahdi (dapat dipercaya dan menepati janji). Dapat dipercaya adalah sifat yang dilekatkan kepada seseorang yang dapat melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya baik yang bersifat diniyyah (keagamaan) maupun ijtimaiyyah (sosial kemasyarakatan). Sifat tersebut dapat menjamin integritas pribadi dalam menjalankan wewenang, dedikasi, dan kredibilitas yang tinggi di hadapan pihak lain sebagai suatu syarat penting dalam membangun berbagai kerjasama, termasuk kerjasama antar umat beragama.

Ketiga, al-adalah (bersikap adil). Bersikap adil mengandung pengertian objektif, profesional, dan taat asas. Sikap adil mengharuskan seseorang berpegang kepada kebenaran objektif dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan tidak melakukan distorsi penilaian. Distorsi penilaian sangat mungkin terjadi akibat pengaruh emosi, sentimen pribadi, dan kepentingan egoistik. Adanya distorsi tersebut dapat menjerumuskan seseorang pada kesalahan fatal dalam menentukan sikap terhadap suatu persoalan. Akibatnya adalah kekeliruan dalam bertindak yang bukan hanya tidak menyelesaikan masalah, tetapi juga menambah keruwetan terutama pada persoalan yang menyangkut perselisihan di antara berbagai pihak atau kelompok umat beragama.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar