Islam dan Pengetahuan

Pada 15 November 1257 pasukan Hulagu Khan berhasil mengepung Baghdad setelah menghancurkan wilayah sekelilingnya. Sekira tiga bulan kemudian perang benar-benar terjadi antara pasukan Hulagu dan Khalifah Al Mustasim yang merenggut ribuan nyawa. Hasilnya, Baghdad jatuh. Hulagu memenangi peperangan dan membantai keluarga kerajaan.

Dalam tragedi ini ada peristiwa lain yang tak kalah mengenaskan: dilenyapkannya naskah-naskah perpustakaan di kota Baghdad. Pasukan Hulagu membuang warisan literer yang kaya itu ke sungai Tigris dan bercampur dengan darah manusia. Kata Fernando Baez (2013) yang menulis tentang peristiwa ini, aksi penghancuran itu dimaksudkan untuk “menghancurkan kebanggaan intelektual rakyat Baghdad”.

Sebagaimana kita tahu bahwa salah satu pusat kekuatan keilmuan pada abad keemasan Islam (the golden age of Islam) adalah Baghdad. Pada masa-masa itu umat Islam menjadi kiblat bagi perkembangan pengetahuan. Pemerintahan Umayyah dan Abbasiyah membangun pusat-pusat ilmu pengetahuan dan mengembangkan secara positif keberagaman kultural yang dimiliki.

Sebagai misal, pada tahun 830 Al Makmun dari dinasti Abbasiyah membangun Baitul Hikmah yang menjadi semacam pusat penelitian dan penerjemahan berbagai karya dari tradisi lain. Kebijakan yang progresif ini memberikan peluang bagi umat Islam untuk mengembangkan pengetahuan secara maksimal. Pada abad-abad berikutnya kebijakan yang pro-pengetahuan ini terbukti berhasil menempatkan umat Islam menjadi pemain kunci dalam membangun peradaban tinggi di masanya.

Dari masa lalu itu agaknya kita perlu mengambil satu poin penting bagi kehidupan kita hari ini. Refleksi beberapa cendekiawan menyatakan bahwa kemunduran muslim hari ini, salah satunya, dipicu oleh faktor kurang dihargainya pengetahuan.Padahal al-Qur’an meneguhkan pentingnya kehadiran pengetahuan dalam kehidupan setiap muslim. Dalam kacamata Asghar Ali Engineer (2000), al-Qur’an menyerukan manusia untuk menjadi pribadi yang ulul albab, manusia yang berpikir (basr/dapat melihat) dan bukan manusia yang kolot (a’am/buta).   

Dalam pernyataan yang lain juga ditegaskan bahwa Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang yang berpengetahuan (QS 58: 11). Bahkan dari pengetahuan itulah manusia akan menemukan jalan menuju keadilan (QS 3:18).Di sisi lain, al-Qur’an menyinggung bahwa manusia yang tidak berpengetahuan akan mudah berprasangka, dan lebih lanjut, prasangka tidak menuntun pada kebenaran (QS. 53: 28).

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar