Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah

Oleh:

Ahmad Musyafiq *)

KEMBALI kepada al-Quran dan as-Sunnah sebagai sebuah slogan mula-mula dikumandangkan oleh sejumlah muslim reformis. Sebagai salah satu usulan bagi penyelesaian masalah keterbelakangan, untuk tidak mengatakan kemunduran, umat Islam memasuki era modern.

Sebenarnya slogan ini secara eksplisit dinyatakan dalam al-Quran dan al-Hadis. Misalnya QS. al-Nisa: 59 (artinya): “Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah).” Dan sabda Nabi Muhammad saw. (artinya): “Aku tinggalkan ke dalam diri kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama kalian mau berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR al-Bukhari). Karena itu, kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah penting bukan hanya dalam situasi menghadapi keterbelakangan dan dalam situasi konflik, tetapi dalam situasi apapun. Kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah adalah kewajiban setiap muslim, bukan hanya milik orang atau kelompok tertentu.

Meski makna slogan itu sangat jelas, tetapi prakteknya tidaklah mudah, yakni terkait bagaimana cara kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah itu. Dalam sejarahnya, ada dua golongan di kalangan ulama dengan kecenderungan berbeda. Pertama, kelompok Ahlul Hadis, yaitu mereka yang memahami al-Quran dan al-Sunnah berdasarkan teks-teks yang ada. Mereka tidak mau beranjak dari makna teks kepada makna substantif di balik teks.

Karena itulah mereka juga disebut sebagai kaum tekstualis. Cirinya adalah rendahnya, untuk tidak mengatakan tidak adanya, porsi penggunaan akal sebagai sumber kebenaran. Kedua, kelompok Ahlur Ra’yi, yaitu mereka yang memahami al-Quran dan as-Sunnah tidak hanya terbatas pada teks, tetapi juga menyeberang di balik teks dan menjangkau ide moralnya, untuk digunakan sebagai dasar bagi implementasi yang secara tekstual bisa saja berbeda dari yang termaktub di dalam teks. Sebagai contoh, potong tangan, bagi kelompok pertama maknanya adalah benar-benar potong tangan. Tetapi bagi kelompok kedua, dimungkinkan meski tidak selalu, ada makna lain, misalnya upaya menghentikan tindakan pencurian, sehingga bentuk hukumannya bisa saja berbeda.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar