Puasa dan Kedermawanan
BERITA TERKAIT

Oleh:

Ahmad Rofiq *)

PUASA adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan suami isteri, dan hal lain yang membatalkan puasa dari fajar hingga terbenamnya matahari.Allah mewajibkan puasa hanya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman (QS. Al-Baqarah 2:183). Yaitu orang yang memiliki keyakinan membenarkan dalam hati, mengikrarkan pada lisan, dan mengamalkannya secara fisik jasmani. Pertanyaannya, mengapa masih banyak orang yang ber-KTP Islam tanpa halangan secara syar'i seperti sakit atau musafir, mereka tidak berpuasa?           

Analogi sederhana, seseorang yang sedang sakit, dia tidak bisa merasakan enak dan lezatnya buah atau makanan yang bagi orang yang sehat sangat lezat. Apalagi itu "buah tangan" tetangga atau handai taulan yang membezuknya.Demikian halnya, orang yang mengaku beriman,tanpa halangan atau udzur syar'i, dia tidak puasa, dapat dikelompokkan orang yangtidak mampu merasakan nikmat puasa, karena ia tidak mampu merasakan manis dan lezatnya iman. Karena imannya sedang sakit, atau meminjam bahasa Al-Ghazaly dan Abu al-Hasan Al-Asy'ary, imannya sedang berada pada titik nadir atau titik nol, karena amal shaleh dapat memupuk tumbuhnya iman dan grafik ketaqwaannya.           

Ibadah puasa juga memiliki tujuan agar seseorang memiliki kedermawanan atau kesalehan sosial. Ini muncul karena seseorang yang menjalankan ibadah puasa, akan meningkat kualitas iman dan taqwanya. Denganiman yang kuat, ia memiliki kesadaran yang tinggi, bahwa harta kekayaan hanyalah instrumen untuk mengabdi kepada Allah. Yang bersifat ritual (hablun minallah) jika dihitung prosentasenya sangat kecil, shalat pun hanya 17 rakaat sehari semalam, puasa satu bulan di bulan Ramadhan, ibadah haji bagi yang mampu. Sementara zakat adalah batasan minimal yang wajib dibayar bagi orang yang mampu, namun sesungguhnya selebihnya adalah ibadah sosial.           

Banyak istilah yang menunjuk ibadah sosial, seperti infaq, shadaqah, hibah, wakaf, dll. Seperti halnya orang shalat, diawali takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Itulah ikrar untuk mensejahterakan danmembahagiakan orang lain. Demikian juga orang yangpuasa, tidak akan sempurna, jika tidak membayar zakat fitrah dan zakat mal bagi yang hartanya melebihi nishab dan haul.Pahala orang yang puasa, yang memberi makanan untuk takjil berbuka atau sahur, adalah sebesar pahala orang yang puasa, tanpa mengurangi pahala orang itu.           

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar