Menjadi Kaya Yang Peduli dan Syukur
BERITA TERKAIT

Oleh:

Ahmad Maftuh

KESALEHAN ialah buah dari penghayatan dan reaktualisasi ajaran agama secara total. Bilamana seorang muslim dalam mengamalkan ajaran agama islam berarti ia berada dalam proses pencapaian kesalehan. Pengamalan yang konsisten dan kontinyu terhadap ajaran islam menjadi awal tertanamannya kesalehan dalam jiwa. Singkatnya, menjalankan perintah agama ialah bertujuan untuk mencetak hamba Allah yang saleh yang tidak sekedar berakibat positip pada dirinya, tapi bagi lingkungannya.

Di dalam kitabullah Al-Qur’an, secara tegas Allah menjelaskan klasifikasi kesalehan manusia. Pertama, kesalehan individual yaitu kemampuan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya atau orang-orang yang dicintainya atas keteguhannya menjalakan amal saleh. Allah berfirman (QS. 27: 19), ‘maka dia (nabi sualaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa : Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh’.Pada ayat lain, Allah menegaskan juga bahwa kesalehan individual seseorang adalah kebiasaan bertobat atas maksiat dan dosa yang pernah dilakukan. Tobat menjadi prasyarat utama terwujudnya kesalehan dalam diri. Hal ini senada dengan firman Allah (QS. 4:146), ‘kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar’.

Kedua, kesalehan sosial ialah sikap memiliki kepekaan sosial yang tinggi berawal dari harapan untuk memberdayakan orang-orang disekelilingnya. Salah satunya ialah dengan memberi perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak yatim, dan mencukupi kebutuhan orang-orang miskin. Pada dasarnya, kesalehan sosial merupakan buah dari kesalehan individual yang sempurna. Hal ini ditegaskan Allah dalam firmannya, ‘Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin’ (QS. 107:1-3).

Ada sebuah memoriam klasik yang menjadi perdebatan dikalangan pemuka agama islam yakni, “lebih utama mana diantara orang kaya yang bersyukur dengan orang miskin yang sabar?”. Memang pelik dan rumit keduanya merupakan olah batin dalam bersikap mengamalkan ajaran islam. Namun hal ini dijawab dengan tegas oleh imam Al-Junaidi—seorang sufi—dan sebagian tokoh lainnya bahwasannya yang lebih utama ialah orang miskin yang sabar.  Berbeda dengan Ibn Atha’, bahwa “orang kaya yang mensyukuri kekayaannya dengan menjalankan hak-haknya—bersedekah, berzakat, dan lain-lain—lebih utama. Begitu juga menurut imam Al-Ghozali yang menitik beratkan pada orang kaya yang bersyukur, bilamana kekayaan dijadikan sebuah wasilah (jalan) untuk menunjang dan memperkuat ibadah kepada Allah SWT.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar