Meniru Kepemimpinan Rasulullah

Oleh:

Muhammad Saifullah *)

TIDAK dipungkiri bahwa Nabi Muhammad Saw adalah tauladan terbaik bagi umat dalam segala aspek kehidupan, khususnya dalam hal kepemimpinan. Tanggungjawab sebagai pemimpin tercermin dalam prilaku kehidupan sehari-harinya. Kepada para sahabatnya, beliau menegaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Nabi bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarganya, dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pembantu (khadim) adalah pemimpin terhadap harta majikannya, dan akan dimintai pertanggungjawabaannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Keteladanan kepemimpinan Rasulullah Saw memiliki beberapa kriteria, antara lain: Pertama,  pemimpin harus dekat dengan Tuhan dan konsisten memperjuangkan nilai-nilai dan ajaran Tuhan yang baik dan luhur. Pemimpin harus seorang yang taat kepada Tuhan (hablum minallah) yang menjadi sandaran. Kedua, pemimpin haruslah seorang yang ikhlas (nothing to loose), tanpa mengharap pamrih kecuali untuk beribadah pada Tuhan  melalui pengabdiannya kepada masyarakat. Melaksanakan amanat sebagai pemimpin dengan niat ibadah sosial menjadikan seseorang menjadi ringan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Sebaliknya, seorang pemimpn akan terasa berat jika dalam memimpin diniatkan untuk memperoleh simpati orang lain agar ia terpilih lagi menjadi pemimpin pada periode berikutnya.

Ketiga, pemimpin harus sosok yang jujur dan adil. Rasulullah Saw dikenal sebagai orang yang jujur sehingga shidiq (jujur) menjadi ciri bagi kerasulannya. Perilaku kejujuran Rasulullah terbangun sejak kecil ketika ia sering diajak oleh pamannya berdagang, hingga ia menjadi karyawan seorang janda Khotijah yang kemudian menjadi istrinya. Ia tidak akan pernah mengambil barang yang bukan miliknya.Mengambil barang untuk dimiliki atau untuk orang lain sama dengan tindakan korupsi. Dermikian juga pemimpin harus adil kepada siapapun tanpa melihat apakah ia orang kaya atau miskin, ia orang jelata atau pejabat. Muhammad   Saw bersikap sama kepada siapapun dan tidak memberikan perlakuan khusus bagi orang yang dekat dengan diriinya atau dengan kerabatnya.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar