Pesan Damai dari Putra Adam

NABI Muhammad saw pernah bersabda: Muslim sejati adalah orang yang mampu menjaga yang lainnya dari dampak negatif yang keluar dari ucapan dan perbuatannya. Muslim sejati adalah orang yang bertegur sapa dengan damai kepada siapa saja yang ia temui. Muslim sejati adalah orang yang mengasihi sesama manusia, sebagaimana Allah SWT mengasihi makhlukNya. Dan masih banyak lagi nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw kepada kita agar supaya kita selalu merawat dan menghiasi keislaman kita dengan nilai-nilai luhur Islam yang penuh cinta dan kasih.

Untuk itulah, kita sepatutnya juga membaca kisah masyhur dari dua putra Adam, Qabil dan Habil. Kisah ini terekam dengan baik dalam al-Qur’an, Surat al-Maidah ayat 27-31 menarasikan secara apik kisah tersebut. Memang, sudah banyak dari kita yang mengetahui dan mendengar kisah ini dari generasi ke genarasi. Bahkan, bagi kalangan ulama’, kisah ini telah menjadi inspirasi dan dalil bagi proses penghormatan terakhir bagi manusia yang meninggal, yakni dengan cara dikubur. Sebagaimana Qabil mengubur saudaranya, Habil, yang telah ia bunuh.

Namun, banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa kisah ini juga mensiratkan satu nilai atau ajaran yang luhur bagi kita agar kita selalu berusaha melawan ketidakadilan dan kekerasan dengan jalan damai nirkekerasan. Mari kita simak potongan kisah berikut: “ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”.

Potongan kisah di atas menceritakan bahwa ketika Qabil mengancam untuk membunuh saudaranya yang bernama Habil. Maka Habil dengan penuh ketenangan menolak untuk melawan dan menginginkan agar Qabil, saudaranya, untuk tidak melakukan perbuatannya (membunuh). Sikap yang diambil oleh Habil ini jelas menunjukkan bahwa prinsip damai dan anti kekerasan harus tetap dijunjung tinggi oleh setiap umat yang beriman kepada Allah SWT dalam kondisi dan situasi apapun. Ketakutan diri (ketaqwaan) kepada Allah SWT seharusnya menjadikan seorang Muslim mampu menahan dirinya untuk berlaku semena-mena kepada yang lain. Allah SWT dalam Q.S. al-Maidah; 8 juga mewanti-wanti kepada kita untuk jangan sekali-kali menjadikan kebencian dan kemarahan kita untuk berlaku tidak adil (moderat) kepada yang lain.

Selain itu, yang dilakukan oleh Habil tidak hanya berhenti pada bentuk kepasrahan diri dari tindak kekerasan itu saja. Melainkan, ia berupaya pula untuk menyadarkan suadaranya, Qabil, agar tidak melakukan perbuatan yang tercela itu. Habil selalu mengingatkan Qabil untuk segera menyesali perbuatannya itu. Karena hal itu dapat menjerumuskannya (Qabil) ke dalam siksa api Neraka, sebagai balasan bagi orang-orang yang lalim. Penyadaran yang diusahakan oleh Habil ini menunjukkan bahwa sikap melawan kekerasan dengan diam, bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Akan tetapi, lebih pada proses pengendalian diri agar tidak terjadi lagi bentuk kekerasan yang lain yang timbul dari bentuk kekerasan sebelumnya. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh Nabi saw ketika berdakwah di Mekkah dengan penuh kesabaran menerima cobaan dan intimidasi dari kafir Quraisy merupakan cerminan dari sikap melawan kekerasan tanpa kekerasan (positive non-violent action) ini. Sebagaimana yang dilakukan pula oleh Mahatma Ghandi dengan gerakan nirkekerasan untuk melawan penjajahan Inggris di India saat itu.

Jawdat Sa’id, seorang ulama’ dari Syiria, menyimpulkan bahwa kisah dari putra Adam ini setidaknya memberikan tiga makna yang penting dan utama. Pertama, adanya aspek kepasrahan total kepada Tuhan sebagai perwujudan dari nilai keimanan kita kepadaNya. Kedua, adanya kemampuan untuk berkorban dengan sepenuh jiwa, agar orang lain menemukan jalan kebenaran. Ketiga, adanya keteladanan tentang bagaimana memutus siklus kekerasan. Habil sebagai simbol kebaikan dan kesalehan, menolak mengotori tangannya dengan darah. Sementara Qabil mewakili kekerasan, kebuasan serta ringan tangan untuk membunuh atas dalih apa saja. Bukankah Nabi Agung kita, Nabi Muhammad saw pernah berkata: “Mukmin sejati adalah orang yang mampu memberikan rasa aman bagi yang lain dari bahaya lisan dan tangannya”. Maka dari itu, jangan lagi kita kotori lisan dan tangan kita dengan beragam tindak kekerasan. Islam telah mengajarkan kepada kita tentang bagaimana cara berkomunikasi dan berinteraksi yang baik (ihsan) kepada sesama manusia. Karena Allah SWT juga berinteraksi dengan rahmat kasihnya kepada semua makhlukNnya. [*]


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar