Tradisi Thek-Thek, Sahur-Sahur!

Oleh: Djawahir Muhammad

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, memasuki minggu ketiga bulan puasa Ramadan kegiatan ibadah yang dilakukan  umat Islam semakin intensif. Mereka semakin terbiasa menahan nafsu lapar,  meskipun  banyak rumah-rumah makan menawarkan berbagai menu. Kebetulan Pemerintah Kota Semarang tidak melakukan razia terhadap warung atau restoran yang buka di waktu siang seperti Banten atau Kerawang. Mereka juga semakin tahan godaan terhadap rasa haus, meskipun godaan berbagai merek minuman semakin intensif ditawarkan. Kalau sekadar menahan lapar dan haus boleh dikatakan tidak terlalu berat dilakukan. Tapi kalau harus menahan nafsu-nafsu yang lain, nah barulah terasa beratnya berpuasa!

Yang memberatkan seseorang yang berpuasa antara lain adalah berbuat bohong, marah-marah, atau memahami orang lain yang tidak sepaham, semisal berbeda   pendapat tentang grup sepakbola dari Amerika Latin atau grup Eropa yang bakal jadi kampiun dalam Copa America atau Europe Cup. Ujung-ujungnya, banyak yang saling mempertaruhkan sejumlah uang mengenai grup mana yang bakal jadi pemenang. Padahal, mempertaruhkan sejumlah  uang itu dilarang oleh Islam.  Lha kok mereka – orang-orang yang melakukan puasa Ramadan itu – begitu bersemangat melakukan perjudian melalui sepak bola yang mereka tonton lewat televisi sehabis salat Tarawih!

Perkara lain yang sering menggoda kesabaran mereka yang sedang berpuasa adalah sikap intoleran para pengguna jalan yang ugal-ugalan, menyalip dengan seenaknya, atau tiba-tiba memotong jalan secara tiba-tiba. Kita harus mengusap dada, seraya mengucap istighfar ”astaghfirullah”, menahan mulut kita agar tidak misuh-misuh dengan menyebut nama hewan seisi kebun binatang!

Hal-hal yang terjadi di luar rumah itu masih sering bertambah dengan kejadian dalam  rumah yang – kalau dalam kondisi biasa -  sering membuat kita senewen.  Ada saja masalah atau kejadian yang bisa membikin kita muring-muring, misalnya menu makan sahur yang tidak cocok di lidah. Akibatnya, kita tidak berselera makan, sahur hanya sekadar memenuhi syarat berpuasa, dan perut terasa mlintir-mlintir. Apalagi kalau istri terlambat bangun, tiba-tiba sudah saatnya imsak atau azan subuh. Nah, kita bisa-bisa berpuasa tanpa sahur alias bakal benar-benar kelaparan nanti!

Dalam konteks inilah kita seharusnya berterima kasih kepada anak-anak muda yang di ujung malam berjalan-jalan keliling kampung sambil memukul benda seadanya, seraya berteriak ”sahur, sahurr!” Seruan atau teriakan itu memang ada kalanya terasa kurang berirama, tapi begitu besar jasanya untuk membangunkan orang atau keluarga yang tertidur pulas, agar segera bangun dan tidak lupa melakukan sahur.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar