Mudik Motor Harus Dikendalikan

Oleh: Djoko Setijowarno

SEPEDA motor masih menjadi angkutan favorit pemudik Lebaran, meskipun sangat berisiko. Data menunjukkan, setiap tahun pilihan mudik menggunakan sepeda motor makin bertambah jumlahnya. Demikian pula angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas sepeda motor meningkat.

Data Kemenhub menunjukkan pada 2014 ada 2.525.920 sepeda motor, pada 2015 ada penambahan 1.233.202 unit (kenaikan 48,82 persen) menjadi 3.759.122 unit. Pada 2016 diprediksi kenaikan 1,48 persen (3.814.757 unit). Berikutnya data dari Korlantas Polri pada 2015, jumlah kecelakaan di jalan raya menurun 21,58 persen. Ada 3.888 kejadian pada 2014 dan 3.049 kejadian pada 2015.

Mudik dengan sepeda motor dikalkulasi lebih murah, irit dan nyaman lantaran tidak harus berdesakan dan dapat berhenti setiap saat jika menginginkan. Mudik sepeda motor mulai marak pada 2005 seiring dengan berbagai kemudahan untuk mendapatkan sepeda motor. Di saat yang bersamaan, kualitas pelayanan transportasi umum menurun drastis. Saat itu produksi sepeda motor meningkat di atas 5 juta, dan ada kemudahan mendapatkannya dengan angsuran bulanan yang diawali uang muka rendah.

Waktu perjalanan bisa lebih dari 10 jam untuk mengendarai sepeda motor dari wilayah Jabodetabek ke daerah terutama di Jateng dan Jatim cukup melelahkan. Rasa badan penat karena harus berkonsentrasi agar keseimbangan tetap terjamin. Perjalanan jauh, dengan cuaca terik matahari atau hujan, tidak menyurutkan pemudik sepeda motor untuk tetap melaju.

Setiba di kampung halaman, sepeda motor masih dapat dimanfaatkan untuk mengunjungi keluarga dan kerabat. Masalahnya, transportasi umum di pedesaan juga buruk. Akan tetapi nyawa juga dapat jadi pertaruhan. Faktor kelelahan bisa menyebabkan pengemudi lengah dan berakibat fatal.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar