Magelang Basis Pabrik Mi Formalin

225
DIPERIKSA : BPOM Semarang saat memeriksa para pekerja pembuat mi berformalin di Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
DIPERIKSA : BPOM Semarang saat memeriksa para pekerja pembuat mi berformalin di Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
DIPERIKSA : BPOM Semarang saat memeriksa para pekerja pembuat mi berformalin di Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Semarang menyebut wilayah Magelang sebagai salah satu pusat produksi mi yang mengandung formalin. Untuk itu, lembaga penyertifikasi makanan itu meminta masyarakat untuk lebih hati-hati.

Data yang dimiliki koran ini, sejak 2013 lalu setidaknya sudah ada empat pabrik di Kabupaten dan Kota Magelang yang dibongkar petugas. “Iya Magelang memang basis pembuatan mi yang diduga mengandung formalin,” kata Petugas BPOM Semarang Ari Wijayanti, kemarin.

Terakhir, BPOM mengerebek sebuah pabrik mi basah yang mengandung formalin di Dusun Manggisan Desa Banjarnegoro Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. Dari rumah mewah itu, petugas menemukan 20 kilogram serbuk yang diduga formalin.

Petugas juga menyita 220 kilogram mi basah. Sayang, hingga Kamis (19/2) petugas belum bisa memintai keterangan pemilik pabrik itu.

Menurut BPOM, pemilik pabrik itu adalah pria bernisial Tls, 53, warga Perumahan Tidar Indah, Kampung Magersari, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang. “Dia merupakan pemain lama yang pernah kita proses sebelumnya,” ungkap dia.

Tls diketahui pernah bermasalah dengan BPOM 2012 lalu saat pabriknya di Kota Magelang dibongkar petugas. Meski demikian, dia tetap tak kapok dan memproduksi mi kembali.

Sebelum ini, BPOM dan kepolisian membongkar pabrik mi formalin rumah di Bagongan Desa Sukorejo Kecamatan Mertoyudan. Kemudian, di Dusun Sedayu Desa Balerjo Kecamatan Kaliangkrik. Lalu di Kampung Paten Jurang Kelurahan Rejowinangun Selatan Magelang Selatan Kota Magelang. “Peredaran mi asal Magelang ini juga sampai ke luar daerah,” kata dia.

Menurut Ari, para pembuat mi berformalin ini telah memiliki jaringan yang cukup luas. Apalagi, saat ini para pelaku menggunakan modus baru. “Formalin yang dicampurkan bentuknya tidak lagi cair tapi berupa serbuk yang itu tidak sembarangan bisa didapatkan,” katanya.

Untuk itu, pihaknya masih perlu melakukan pendalaman kasus ini. “Kami bisa tahu setelah pemilik diperiksa,” ungkap Ari.

Mustofa, 49, salah satu karyawan, mengaku tidak tahu menahu jika mi yang dia produksi mengandung zat formalin. Warga Desa Balaikerto Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang itu mengatakan hanya menjalankan perintah majikan sebelum meracik mi basah.

“Saya nggak tahu kalau ada zat formalin, saya cuma diajarin bikin mi basah sama beliau, semua bahan sudah disiapkan tapi tidak pernah dijelaskan apa bahan-bahannya itu. Yang saya tahu hanya tepung gandum, tawas, kalau yang serbuk putih itu nggak tahu,” ucap Mustofa yang baru empat hari bekerja di pabrik itu.

Mustofa menyebutkan, dalam sehari dia dan dua rekannya biasa memasak hingga empat sak atau sekitar satu kuintal tepung gandum menjadi sekitar 200 kilogram mi basah siap konsumsi. Namun Mustofa juga mengaku tidak tahu kemana mi basah itu akan dipasarkan, bahkan ia juga mengaku tidak mengenal lebih jauh identitas sang majikan.

“Saya nggak tahu, saya cuma diajak kawan untuk bekerja di sini. Kalau nanti pabrik ini ditutup kemungkinan saya kembali menjadi petani di desa,” ujar dia. (vie/ton)